Deputi Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Kaltim hingga akhir 2024 diperkirakan mencapai 5,5%-6,3% year-on-year.
Faktor utama pertumbuhan ini adalah kinerja sektor penggalian (batu bara dan migas), industri pengolahan (CPO dan pupuk), serta masifnya pembangunan infrastruktur IKN.
“Masifnya konstruksi di IKN turut menopang pertumbuhan ekonomi. Namun, tantangan seperti inflasi akibat meningkatnya kebutuhan pangan perlu diantisipasi,” ujar Bayuadi.
BI Kaltim optimis inflasi di provinsi ini dapat terkendali pada 2025 dengan target nasional 2,5% ± 1%.
Program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) menjadi salah satu strategi utama untuk menjaga stabilitas harga pangan.
Keterlambatan pembangunan IKN di era Prabowo Subianto tidak memadamkan optimisme terhadap kontribusinya bagi ekonomi Kaltim.
Dengan langkah strategis dan kolaborasi antarinstansi, pembangunan IKN diharapkan dapat terus memberikan dampak positif, baik dari sisi infrastruktur maupun ekonomi regional.