“Hai Daalan,” sapanya.
Uh…tahu pula nama saya.
Meski mengucapkannya dengan logat Amerika ia bersikap seperti sudah mengenal saya. Rupanya John sudah membocorkan kedatangan saya.
Itu ternyata soulmate-nya John. Di masa kuliah dulu. Di Kansas University.
John di jurusan komunikasi jurnalistik, temannya itu di fakultas kedokteran. Sepantaran. Kini sama-sama berusia 85 tahun.
Saya pun permisi dulu menaruh tas. Saya tahu “kamar saya” di sebelah mana: lantai bawah. Begitu saya balik ke lantai atas mereka lagi seru: berdebat bagaimana Donald Trump bisa menang di Pilpres seminggu lalu.
Lantai atas rumah ini sejajar dengan halaman depan. Sedang lantai bawahnya sejajar dengan halaman belakang yang luas dan hijau.
Sebetulnya mereka tidak berdebat. Hanya seperti saling menumpahkan kemarahan. Dua pasangan ini sama-sama anggota Partai Republik tapi memilih Kamala Harris. Bukan karena Kamala lebih hebat, tapi karena tidak suka pada Trump.
Trump, kata mereka, perusak demokrasi.
Mereka merasa sangat depresi. Bagaimana bisa seorang kriminal, pembohong, dan berpotensi diktator terpilih sebagai presiden Amerika.
Si soulmate adalah seorang dokter. Ahli bedah jantung dan pembuluh darah. Tinggalnya di Sacramento, kota kecil yang jadi ibu kota California. Ternyata mereka sudah sering saling berkunjung. Bulan lalu John yang ke rumah si soulmate di Sacramento. Juga satu minggu di sana.
Begitu tahu ia ahli bedah jantung cardiovascular saya mencoba menghentikan kejengkelan mereka lewat info yang saya kira akan menarik perhatiannya: “saya mengalami aortic dissection lima tahun lalu.”
Reaksinya jauh dari perkiraan saya.
“Jangan ajak saya bicara soal kedokteran!” katanya. Keras. Mengentak. Masih mirip usia 60 tahun. Tangannya menggebrak meja bar di dekat dapur.
“Saya sudah lama pensiun. Saya tidak mau bicara apa pun tentang kedokteran,” sergahnya.
Akhirnya saya menyimpulkan: ada misteri lain di balik kejengkelannya pada Trump. Rasanya ada dua kejengkelan menjadi satu dalam dirinya. Jengkel pada Trump, jengkel pula diajak bicara dengan topik yang lagi ingin ia lupakan.
Berarti ada misteri di dalam dirinya. Saya harus bisa “membongkar” misteri apa yang ia alami saat berprofesi di kedokteran.
Lain hari saja. Jangan sekarang. Masih ada waktu. Suami-istri itu masih tiga hari lagi di rumah John. Saya masih belum tahu sampai kapan. Masih banyak waktu untuk menguak rahasianya.
Usianya baru 60 tahun saat ia memutuskan berhenti total sebagai dokter. Anaknya tiga orang. Tidak ada yang jadi dokter. Mereka menyebar di tiga negara bagian. Salah satunya di kota Wichita, Kansas tengah. Sebelum bertandang ke rumah John ini ia ke rumah anak cucunya di Wichita –empat jam dari rumah John.
Ia juga sering ke rumah anak cucunya yang lain. Naik mobil. Dari satu negara bagian ke negara bagian lain. Naik pesawat. Atau mengemudi mobil sendiri. Usia 85 tahun masih selalu pegang kemudi.
Mereka pun melanjutkan bicara soal pilpres lagi. Saya diminta gabung di forum kejengkelan itu. Saya bergabung. Tapi harus tahu menempatkan diri. Saya tidak boleh menyiramkan bensin ke atas bara yang membara.
Saya hanya bercerita soal kunjungan saya ke rumah masa kecil Kamala di Oakland. Juga soal batalnya rencana begadang sepanjang malam untuk melihat parade kemenangan Kamala di kampungnyi itu.
“Asia rasanya senang dengan kemenangan Trump. Ada jaminan tidak akan ada perang lagi,” kata saya.
“Bagaimana dengan Tiongkok?” tanya John yang pernah saya ajak ke sana.
“Rasanya Tiongkok juga senang,” jawab saya ngawur. “Secara tradisional Tiongkok lebih sulit ketika yang berkuasa di sini Demokrat.”
Demokrat lebih mempersoalkan demokratisasi, hak asasi, dan sangat anti totaliter.
Saya tidak ingin melihat reaksi mereka. Saya lari menuruni tangga. Saya harus ingat kepentingan utama saya datang ke rumah John: menyerahkan novel yang ia tulis yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Sudah terbit di Indonesia. Penerjemahnya Anda sudah tahu: Naksin Alhad.
Saya ambil dua novel tebal dari tas saya. Saya serahkan ke John. Juga ke Chris, istrinya. Yang dua orang tidak saya beri. Mereka tak akan bisa membacanya. Maka pembicaraan pun pindah ke soal novel itu. John berbinar-binar. Sambil menceritakan perjalanannya lebih 10 kali ke Indonesia –mulai Jambi sampai Wamena.
John juga punya kejengkelan lain selain pada Trump. Di novel itu ia menulis soal demokrasi, kebebasan, dan bahayanya totalitarian. Harapannya, waktu itu, Indonesia segera jadi negara demokrasi.
“Berarti Anda harus juga menulis novel seperti ini untuk Amerika,” kata saya. John dan Chris tertawa. Baguslah. Sudah bisa tertawa.
“Baiknya Anda segera move on,” kata saya lagi.
Keesokan harinya si dokter melihat saya sedang move on: senam-dansa. Sendirian. Di lantai bawah. Di dalam ruangan. Saya tidak berani senam outdoor di teras atas atau di halaman. Dingin sekali.
“Ikut saya,” katanya.
“Ke mana?”
“Jalan kaki. Lima kilometer. Saya tiap hari jalan kaki sejauh itu.”
Saya pun ambil jaket Persebaya model baru. Lebih tebal. Cocok untuk cuaca musim gugur.
“Jalan ke mana?”
“Saya tahu rutenya. Sudah biasa. Saya bisa tunjukkan bagian-bagian menarik di sekitar perumahan ini.”
Di usia 85 tahun langkah si dokter masih panjang. Cepat. Saya harus mengayunkan kaki lebih banyak.
Selama ini saya tidak memasukkan jalan kaki sebagai olahraga. Tapi kalau langkahnya seperti ini pasti sudah bisa membuat jantung berdetak 115 kali. Sudah memenuhi syarat olahraga.
Begitu indah perumahan ini. Banyak yang halamannya begitu luas, berumput hijau yang terawat, dengan pepohonan tua yang seperti di lukisan –bukankah sebenarnya lukisanlah yang seperti pemandangan ini.
Salah satu rumah di situ punya halaman lebih luas: punya lapangan golf pribadi. Masih ada lapangan tennis pribadi. Lapangan basket pribadi. Pemiliknya ternyata memang seorang pemain golf profesional –di luar 10 besar Amerika.
Si dokter juga pemain golf. Ia agak lama berhenti memandang ke lapangan golf itu. Saya sebenarnya keberatan irama jalan kaki ini terganggu lapangan golf. Tapi saya harus menyenangkannya.
Saya harus mulai menggali soal kekecewaannya pada profesi dokter. Toh sudah lebih 40 menit jantung berdetak 115 kali tanpa jeda. Sudah memenuhi syarat kedua sebuah olahraga.
Di sisa perjalanan setelah golf ini saya harus mulai menggali pedalamannya. Berhasil. Ternyata ia berhenti sebagai dokter setelah sekelompok dokter yang lebih muda masuk ke lingkungan kerjanya. Mereka membawa sistem kerja baru: agar bisa mendapatkan uang lebih banyak.
Ia tidak bisa menerima itu. Etika dokter tidak boleh dikorbankan. Ia pilih berhenti. Ia tidak mau lagi bekerja. Ia lebih banyak bersama istri dan cucu. Main golf. Jalan-jalan. Uangnya sudah bisa melahirkan uang sendiri. Ia menaruh uang si beberapa saham di pasar modal.
Kegiatan intelektualitasnya dijaga lewat buku. Suami istri ini ikut klub buku. Bersama lima pasangan suami-istri lainnya. Sepuluh orang. Tiap tiga bulan klub buku ini bertemu. Makan malam.
Sebelum makan malam mereka diskusi buku. Satu jam. Di lima rumah anggota. Secara bergantian. Bulan lalu giliran si dokter jadi tuan rumah. Buku yang dibahas: kumpulan cerpen terbaru.
Siapa yang menyiapkan makan malam?
“Masing-masing membawa satu menu,” ujar istri si dokter.
Di pertemuan terakhir menu utamanya: Cornish hen.
Hen, Anda sudah tahu: mirip ayam jantan seukuran dara. Dipanggang utuh. Satu orang satu hen panggang.
Lalu ada nasi campur aprikot dan kacang-kacangan. Ada asparagus panggang. Di awal dinner ada caesar salad. Penutupnya: cokelat dan cake suksini.
Pertemuan sebelumnya membahas buku biografi Elon Musk. Buku baru. Mereka tidak menyangka Elon Musk ikut jadi penentu kemenangan Trump kali ini. Dengan uangnya yang tak berseri. Ia orang terkaya sekarang ini.
Begitu Trump menang, harga saham Tesla naik sampai 10 persen. Dalam satu hari kekayaan Elon Musk naik lebih Rp 100 triliun. Kini kekayaan satu orang ini menyamai kekayaan satu negara seperti Indonesia.
Dalam setiap pembahasan buku baru salah satu anggota jadi moderator. Sekaligus pembicara utama. Waktunya 30 menit. Setelah itu semua diberi waktu bicara masing-masing lima menit.
Usia 85 tahun masih rutin membahas buku baru. Banyak klub buku seperti itu. Mereka masih istimewa di tengah budaya TikTok.
Buku memang bisa membuat orang berpikir secara mendalam. TikTok hanya membuat orang berpikir kian dangkal. Akibat video-video super pendeknya. Dangkal dan sekilas-sekilas.
Orang lama suka dalam. Orang baru suka dangkal. (Dahlan Iskan)