“Konsolidasi antar-stakeholder dari komunitas lokal hingga akademisi sangat penting dalam membangun ekosistem kebudayaan yang dinamis. Perguruan tinggi seperti Unmul harus menjadi rumah bagi inovasi kebudayaan,” jelas Hilmar.
Dalam sesi diskusi yang dihadiri oleh ratusan peserta, para mahasiswa dan pelaku budaya lokal berbagi pandangan tentang tantangan serta peluang yang ada dalam mengembangkan kebudayaan di era modern ini.
Digitalisasi dan urbanisasi dipandang sebagai peluang untuk memperkuat kebudayaan, bukan sebagai ancaman.
Hilmar juga menyoroti peran Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) di Tenggarong yang memerlukan perhatian khusus dalam pengembangan kebudayaan di wilayah tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya ahli konservasi, kurator, dan arsiparis dalam menjaga serta memajukan kebudayaan di IKN.
IKN Sebagai Sumbu Penerang Kebudayaan Nasional
Sebagai pusat pemerintahan dan kemajuan, Hilmar menyebut IKN harus memiliki karakter budaya yang kuat dan menjadi representasi kebudayaan nasional.
Dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan, keberagaman budaya Indonesia harus dipandang sebagai kekuatan, bukan sekadar dekorasi atau ornamen dalam pembangunan kota.
“Budaya bukan hanya tentang bentuk atau dekorasi. Kalimantan dengan semua kekayaannya harus merepresentasikan budaya nasional yang kuat, seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945, Pasal 32 Ayat 1.
Kebudayaan nasional terbentuk melalui interaksi, dialog, dan seleksi nilai dari setiap daerah di Indonesia,” tutup Hilmar.
Dengan kuliah umum ini, diharapkan semangat mahasiswa Unmul dalam melestarikan kebudayaan semakin kuat, serta dapat menjadi penggerak dalam memperkuat identitas kebudayaan Indonesia di kancah global.