Catatan Dahlan Iskan

Akbar Yanuar

Share
Share

Itu bukan pendapat saya. Anda sudah tahu: banyak ahli mengatakan itu.

Presiden Jokowi?

Hebat di periode pertama. Rusak di periode kedua.

Itu juga bukan pendapat saya. Simaklah sendiri podcast Akbar Faisal: Uncensored. Edisi yang menampilkan Dr Yanuar Nugroho.

Akbar sendiri setuju dengan pendapat itu.

Dua orang ini memang terlibat langsung di periode pertama Presiden Jokowi. Lalu Akbar beralih sangat kritis di periode kedua.

Saya tidak tahu sikap Yanuar di periode kedua Presiden Jokowi. Ia tidak lagi di dalam tapi juga tidak kelihatan menyerang. Ia kembali ke dunia kampus.

Baru di podcast Akbar itu saya tahu pendapatnya. Sangat proporsional.

Yanuar mengemukakan juga sisi keberhasilan Jokowi: infrastruktur, dasar-dasar digitalisasi pemerintahan, jaminan sosial, dan satu data Indonesia.

Saya kenal Yanuar saat ia menjabat salah satu deputi di UKP4 di masa pemerintahan Presiden SBY.

Lembaga UKP4 dipimpin Pak Kuntoro Mangkusubroto –meninggal tahun lalu. Itulah lembaga yang memonitor dan menagih para menteri dalam melaksanakan program kerja presiden.

Lembaga itulah yang menjadi dashboard: siapa bertanggung jawab atas program apa. Pelaksanaannya sampai di mana. Dimonitor keras. Setiap tahap dievaluasi.

Kalau ada hambatan, di mana hambatannya. Kalau hambatan itu menyangkut kementerian lain, kementerian dimaksud dipanggil. Diajak rapat bersama. Dikonfrontasi. Dicarikan jalan keluarnya.

Dalam salah satu rapat agendanya sangat berat. Sangat penting untuk masyarakat dan kemajuan ekonomi. Tapi menyangkut sampai perubahan izin.

Tidak ada yang berani ambil risiko. Program terancam gagal. Saya angkat bicara: “Saya saja yang ambil risiko, biar pun saya harus masuk penjara”.

Pak Kuntoro, mantan menteri pertambangan, seorang yang pemberani. Kalau menagih janji sangat keras. Ia tidak sungkan meski yang ia tagih itu seorang menteri yang janji programnya terancam meleset dari jadwal.

Pak Kuntoro didukung para deputi. Semua teknokrat. Muda-muda. Salah satunya Yanuar Nugroho.

Yanuar, saat itu, sebenarnya belum ingin pulang ke Indonesia. Ia masih betah di Manchester, Inggris.

Share
Related Articles
Tarim Tanah
Catatan Dahlan Iskan

Tarim Tanah

Oleh: Dahlan Iskan "Dari mana Anda tahu saya sedang di Tarim?" "Hari...

Catatan Dahlan Iskan

Berpisah Istri

Oleh: Dahlan Iskan Saya berpisah lagi dengan istri: di Makkah. Hampir selalu...

Imron Djatmika
Catatan Dahlan Iskan

Imron Djatmika

Oleh: Dahlan Iskan Inilah dua orang yang tahu kapan harus berhenti jadi...

FDI Purbaya
Catatan Dahlan Iskan

FDI Purbaya

Oleh: Dahlan Iskan Konkret saja. Saya mencoba inventarisasikan apa saja yang jadi...