Catatan Dahlan Iskan

Pusat Data

Share
pusat-data diretas-ilustrasi
Share

Tentu ia punya nomor telepon banyak orang, termasuk nomor HP yang saya pegang. Saya pun ingin mengujinya.

“Silakan Anda bajak nomor saya ini,” kata saya.

Anak muda itu pun main-main sebentar dengan HP miliknya. Lalu teman di sebelah saya menerima WA. Dari saya. Dari nomor saya. Dengan foto wajah saya di nomor itu.

Padahal saya lagi ngobrol asyik dengan beberapa teman di situ. Saya memang pegang HP, tapi tidak melakukan apa pun. Tiba-tiba ada yang menerima WA dari nomor saya.

Anak itu bisa ‘’mencuri’’ password saya. Tentu ia hanya sekali itu saja melakukannya. Ia berjanji tidak akan melakukan lagi kirim WA sebagai saya.

Katanya: tadi itu hanya untuk membuktikan bahwa ia punya kemampuan seperti itu.

Itu setahun lalu. Bulan itu saya masih bertemu lagi beberapa kali dengannya lalu tidak bertemu lagi. Saya pun lupa kalau pernah punya teman semuda dan sehebat itu.

Saya baru ingat ia lagi minggu lalu. Yakni ketika media menghebohkan terjadinya pembobolan Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) milik Indonesia di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Saya pun mencari anak muda itu. Saya merasa sulit menulis soal pembobolan itu kalau belum bertemu dengannya. Saya ingin tahu kira-kira seperti apa kejadiannya.

Saya ingat namanya, tapi tidak ingat nomor teleponnya. Saya cari di HP saya. Tidak ketemu. Saya ingat: ini HP baru, yang harganya hanya seperempat HP lama.

Mungkin nomor kontaknya tidak ter-copy ke HP baru.

Dari temannya teman saya nomor anak muda itu bisa saya dapat. Saya hubungi. Tidak berhasil. Saya telpon tidak ada nada sambung. Saya WA: hanya centang satu. Tiap hari saya coba hubungi. Gagal.

Temannya juga sulit menghubunginya. Mereka juga sudah tiga bulan tidak bertemu. Saya pun malu: tidak bisa segera menulis tentang pembobolan PDNS itu. Padahal medsos begitu riuh. Sampai ada yang marah-marah mengapa presiden tidak mengangkat anak muda sebagai menkominfo. Yakni anak muda yang paham teknologi informasi.

Saya sendiri, secara pribadi, tidak merasakan dampak apa pun dari pembobolan itu. Tak ada sedikit pun kesulitan. Hidup saya berjalan normal.

Share
Related Articles
Catatan Dahlan Iskan

Agus Mustofa

Oleh: Dahlan Iskan Lima jam sebelum meninggal ia memanggil putrinya: Citra P....

Catatan Dahlan Iskan--Rumah Ahmadi
Catatan Dahlan Iskan

Rumah Ahmadi

INILAH hak paten yang didapat Dasep Ahmadi di usia 60 tahunnya: ''rumah'' baterai....

Catatan Dahlan Iskan

Kang Dasep

Oleh: Dahlan Iskan Semasih mahasiswa pun ia sudah menjuarai lomba robot tingkat...

Rencana Pindah
Catatan Dahlan Iskan

Rencana Pindah

Oleh: Dahlan Iskan Kian simpang siur. Pun setelah seluruh dunia ikut menderita...