Saat dihubungi oleh Febrie, Komjen Wahyu Widada mengatakan tidak tahu menahu soal penguntitan yang dilakukan oleh Densus 88.
Meski begitu, Kabareskrim meminta agar Iqbal Mustofa dilepaskan. Tapi, permintaan itu ditolak oleh Jampidsus. Karena mentok, Febrie pun melaporkan hal ini kepada Jaksa Agung.

POM AD – POM AL Siaga di Kejagung
Namun, ternyata persoalan tersebut belum sepenuhnya tuntas. Buktinya, pada Kamis 23 Mei 2024, pukul 20.30 WIB gedung Kejaksaan Agung didatangi konvoi personel dari aparat kepolisian.
Konvoi tersebut dipimpin Bripda Zaky. Dia membawa 12 personel menggunakan motor tril dan kendaraan taktis.
Belasan polisi konvoi melalui pintu belakang Kejaksaan Agung. Mereka memakai seragam hitam-hitam, membawa senjata laras panjang, dan berboncengan.
Para polisi diduga sengaja berhenti di pintu utama gerbang barat Kejagung yang berada di Jalan Bulungan.
Konvoi tersebut berhenti lama sekitar 10 menit dengan menyalakan sirene dan berteriak-teriak.
Petugas Pengamanan Dalam (Pamdal) Kejagung yang berjaga-jaga di pintu barat langsung menutup gerbang.
Anggota polisi yang konvoi meminta izin masuk ke lingkungan kantor Kejaksaan Agung dalam rangka cipta kondisi Kamtibmas
Namun, permintaan itu ditolak oleh petugas keamanan kantor Kejaksaan Agung dan Polisi Militer dari TNI AL yang berjaga.
Setelah sempat adu argumen, akhirnya personel polisi tersebut tidak jadi masuk lingkungan kantor Kejagung.
Mereka melanjutkan aksinya dengan mengitari kompleks Kejagung hingga 4 kali melalui Jalan Bulungan ke arah Jalan Panglima Polim kawasan Blok M.
Usai kejadian itu, pengamanan di Kejagung ditambah. Sejumlah personel TNI disiagakan. Bahkan satuan Pamdal diwajibkan mengenakan rompi antipeluru.

Selain itu, sejumlah personel dari Polisi Militer Angkatan Darat (Pomad) juga berjaga-jaga di Gedung Kartika.
Mereka melakukan sweeping udara. Ini karena sebelumnya terlihat ada drone yang melintas di atas gedung Kejagung.
Gedung Kartika sebetulnya adalah kantor Jaksa Agung Muda Pidana Militer (Jampidmil) Mayjen TNI Wahyoedho Indrajit.
Namun sejak Desember 2023, Jampidsus Febrie Adriansyah dan tim penyidik menggunakan gedung tersebut untuk sementara.