Home Forest City Apa Itu Sponge City? Konsep Pembangunan di Ibu Kota Nusantara
Forest CitySociety IKN

Apa Itu Sponge City? Konsep Pembangunan di Ibu Kota Nusantara

Share
IKN menggunakan konsep Sponge City
IKN menggunakan konsep Sponge City. Foto: Ilustrasi
Share

Negara Tiongkok telah menetapkan tujuan untuk memiliki area-area perkotaan yang mampu menyerap sebagian besar air hujan pada tahun 2030. Di luar Tiongkok, ada juga beberapa contoh sponge city.

Misalnya, Auckland sebagai kota paling “spongy” dari tujuh kota global lainnya, termasuk Nairobi, Singapura, Mumbai, New York City, Shanghai dan London. Philadelphia adalah salah satu kota pertama di AS yang mengatasi masalah manajemen air perkotaan dengan mengambil langkah-langkah signifikan sesuai konsep sponge city.

Konsep sponge city yang mengubah kota layaknya spons yang mampu menahan air hujan diterapkan dalam pengembangan Kawasan IKN.

Pembangunan Kawasan IKN yang berdasarkan konsep sponge city diwujudkan dalam perencanaan kawasan yang memiliki ruang terbuka hijau dan biru yang tersebar luas dan tersambung dalam satu-kesatuan tata hidrologis.

Desain fasilitas perkotaan yang mampu menahan dan menyerapkan air hujan dengan cepat melalui pembangunan atap hijau pada bangunan gedung, pembangunan jalan dan trotoar berpori, dan pembangunan sistem bioretensi.

Prinsip penerapan sponge city di wilayah IKN adalah mengurangi limpasan permukaan, memaksimalkan peresapan air hujan, dan pemanenan air hujan. Pengembangan kawasan IKN sebagai sponge city memiliki tiga tujuan yaitu:

  1. Kota Nusantara (Archipelago city)

Integrasi daerah detensi (koridor hijau dan biru) untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan menunjang ketersediaan air bersih. Ruang terbuka hijau dan badan air menjadi fondasi struktur pembentuk kota.

  1. Kota Penyerap (Absorbent city)

Limpasan air hujan yang mengalir akan diarahkan untuk dikumpulkan di taman kota. Taman kota berfungsi sebagai ruang terbuka hijau yang dinamis dan bersifat seperti spons yang menyerap air limpasan. Koridor hijau dan biru berfungsi sebagai penangkap limpasan kota dan menjadi koridor fauna sekunder.

  1. Kota Terpadu (Integrated city)

Elemen-elemen fasilitas perkotaan di skala blok diintegrasikan sebagai elemen yang mampu mengumpulkan air hujan dan meningkatkan daya serap tanah sehingga dapat berkontribusi dalam perbaikan lingkungan habitat.

Pengembangan kawasan IKN sebagai sponge city tidak dapat dilepaskan dari wilayah sekitar IKN.

Share
Related Articles
Society IKN

Menuju IKN 2028, Peran Masyarakat Dayak Diperkuat Lewat Mubes PDKT

IKNPOS.ID - Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menghadiri sekaligus membuka Musyawarah Besar...

Society IKN

UEA Investasi Rp4 Triliun Garap Kawasan Terpadu IKN

IKNPOS.ID – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) resmi menjalin kerja sama strategis...

Dampak IKN terhadap pariwisata Kaltim
Forest City

IKN Dongkrak Wisatawan Domestik Kaltim 10 Persen, Infrastruktur Pedalaman Jadi PR Besar

IKNPOS.ID - Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai mengubah wajah pariwisata di...

Forest City

OIKN dan UGM Akan Perluas Kolaborasi pada Riset Lapangan Terpadu di Wanagama Nusantara

IKNPOS.ID - Mempersiapkan tenaga ahli untuk kelangsungan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN)...