“Ini bukan lagi soal sekolah kami atau madrasah mereka. Ini tentang masa depan anak bangsa. Keselamatan dan kenyamanan siswa adalah prioritas utama, di mana pun mereka menimba ilmu,” terang Gogot.
“Dengan adanya skema bersama, kami bisa saling berbagi praktik terbaik. Mengoptimalkan anggaran, dan memastikan setiap rupiah dari negara menghasilkan fasilitas pendidikan berkualitas tinggi,” tukasnya.
Sinergi ini akan mempercepat realisasi infrastruktur pendidikan yang unggul dan merata di seluruh pelosok negeri. Kerja sama lintas kementerian ini difokuskan pada beberapa area kunci:
Data Terintegrasi: Berbagi dan menyinkronkan data sekolah dan madrasah yang memerlukan renovasi mendesak.
Standar Teknis Bersama: Menyusun spesifikasi minimum untuk material bangunan, desain tata ruang belajar yang modern, dan fasilitas pendukung lainnya.
Mekanisme Pengawasan: Membangun model pengawasan dan evaluasi proyek bersama untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas.
Pihak Kemenag menyambut baik inisiatif ini. Diharapkan, dengan skema induk ini, program renovasi di tahun-tahun mendatang dapat berjalan lebih cepat, terarah, dan memberikan dampak maksimal bagi peningkatan mutu pendidikan nasional.
Program rehabilitasi ini dirancang dengan visi terpadu yang melampaui sekadar perbaikan fisik. Pemerintah tidak hanya memperbaiki atap yang bocor atau dinding yang retak, melainkan mentransformasi seluruh ekosistem sekolah. Setiap unit sekolah yang direnovasi akan mendapatkan standar minimum fasilitas yang setara, baik di kota besar maupun di pelosok negeri. Ini termasuk:
Ruang kelas yang layak: ventilasi yang baik, pencahayaan optimal, dan furnitur yang ergonomis.
Laboratorium sains dan komputer: Dilengkapi dengan perangkat modern untuk mendukung pembelajaran praktikum dan digital.
Perpustakaan: Ruang baca yang nyaman dengan koleksi buku yang memadai dan akses digital.
Fasilitas pendukung: Toilet yang bersih, kantin sehat, dan ruang serbaguna untuk kegiatan ekstrakurikuler.
Pendekatan ini menjamin bahwa setiap siswa memiliki akses yang sama terhadap lingkungan belajar yang kondusif. Revitalisasi ini juga menjadi pintu masuk untuk implementasi kurikulum merdeka yang lebih efektif, di mana siswa didorong untuk berpikir kritis dan kreatif melalui berbagai aktivitas di dalam dan luar kelas.
Memutus Rantai Kemiskinan
Kesuksesan program ini terletak pada kemampuannya untuk menjangkau wilayah-wilayah yang paling membutuhkan.