Di dalam restoran itu ruangannya luas sekali. Redup. Bisa untuk 500 pengunjung. Restoran besar.
Saya tidak tahu ada masakan apa saja di situ. Saya serahkan pada Si sopir untuk memesankan.
Datanglah satu baki besar. Mirip sajian gaya Arab. Isinya potongan-potongan roti, salad sayur, gulungan roti, saus dan berbagai sambal. Kami makan sebaki berdua. Pakai tangan.
“Sebentar lagi dagingnya datang,” katanya.
Benar. Tempat dagingnya seperti tempat dupa. Potongan daging menggunung di dalamnya. Di bawah tumpukan daging itu arang. Membara. Daging pun terjaga panasnya.
“Ayo makan dagingnya,” pinta saya kepadanya.
“Saya masih melanjutkan puasa,” jawabnya.
Ia pun menjelaskan: puasa Rabu-Jumat itu memang sampai pukul 12 siang (waktu kita). Setelah itu boleh makan tapi terbatas: tidak boleh makan daging apa pun, telur, susu, keju. Hanya boleh sayur dan buah.
Maka saya harus bertanggung jawab atas gunung daging itu. Mungkin setengah kilogram. Istri saya pasti senang melahap daging itu. Saya foto. Saya kirimkan padanyi yang masih di Makkah.
Saya cari-cari rasa apa daging itu. Ketemu: rasa bulgalbi-nya masakan Korea. Ukuran potongannya pun mirip bulgalbi.
Maka saya lahap gunung daging itu dengan cara makan yang sama dengan gaya makan bulgalbi.
Potongan daging saya taruh di atas sayur salad. Potongan daging saya bungkus dengan sayur itu. Saya masukkan mulut pakai tangan. Serasa di resto Korea. Bukan di Makelle Ethiopia.
Lapar adalah lauk terbaik di dunia.(Dahlan Iskan)