Mirza Mirwan
Albert Einstein benar ketika bilang bahwa “Science without religion is blind, religion without science is lame.” Sebagai orang yang pernah belajar anthropologi saya percaya bahwa primata “Neandertal” (bahasa Jerman) atau “Neanderthal (bahasa Inggris) memang pernah ada. Tetapi apakah wujudnya seperti foto yang menyertai CHD hari ini, saya hanya 25% percaya. Scientists just guess. Foto itu kan cuma hasil rekontruksi dari fosil yang ditemukan. Pun tidak utuh. Misalnya menemukan tengkorak, atau tulang pinggul. Tulang-tulang lainnya hanyalah perkiraan. Lalu dibuatlah rekontruksinya. Bila punya duit nganggur cobalah ke Düsseldorf (Nordrhein Westfalen, Jerman). Lalu pergilah ke arah timur sekitar 10-12 km. Anda akan sampai di Lembah Neander — diambil dari nama Pastur Joachim Neander, yand seabad sebelum ditemukannya fosil Neandertal sering berkunjung ke lembah itu. Di dekat lembah itu dibangun Neandertalermuseum (Museum Neandertal). Di situ banyak bentuk rekontruksi Neandertal, termasuk yang seperti foto di CHD hari ini. Malah ada yang cukup tampan. Tetapi, sekali lagi, “scientists just guess”. Bagaimana dengan DNA Pak DI yang 2,5% Neandertal?. Kalau Pak DI percaya, ya itu hak Pak DI. Tetapi kalau saya, maaf, tidak percaya. Jarak waktu keberadaan Neandertal dengan Nabi Adam terlalu jauh. Jadi kemungkinan terjadi interaksi seksual Neandertal dengan manusia jelas mustahil.
djokoLodang
-o– SEDEKAH PENGEMIS Bertahun-tahun yang lalu Koh-Jo terbiasa memberikan sedekah 100 ribu kepada pengemis di kampungya. Beberapa waktu kemudian, pemberiannya berkurang menjadi 50 ribu. Setelah itu, berkurang lagi. Terakhir dia berikan 20 ribu, sebelum Koh-Jo pindah rumah, Eh, pekan lalu Koh-Jo ketemu dengan si pengemis. Kali ini, pengemis bertanya, mengapa dulu itu pemberian Koh-Jo berkurang dari 100ribu menjadi 20 ribu. Jawab Koh-Jo: “Dulu, aku masih bujangan, Tak ada tanggungan. Jadi kuberikan 100 ribu setiap ketemu kamu. Setelah aku beristri, terpaksa kukurangi menjadi 50 ribu. Terakhir, kami sudah punya anak. Berkurang lagi sedekahku menjadi 20 ribu. Begitu lah ceritanya, kawan.” “Jadi,” sahut pengemis, setelah berpikir sejenak. “Selama ini bapak menunjang anak istri pakai uang saya …”. –jL-